Eksplorasi Tuna Celebes

Batas ekosistem antara perairain laut dangkal dengan dasar palung terdalam di pesisir segera antara Pulau Toguan dan Matupi merupakan habitat teritori spesies Tuna Gigi Anjing di Barat Sulawesi. Lokasi ini kian mahsyur di telinga para pemancing dari se-antero Nusantara maupun luar negeri, untuk eksplorasi sang gigi tuna tajam yang menghadirkan strike berjuta sensasi.

Nyiur alun udara segar pesisir barat pantai Sulawesi tersaji apik di sepanjang perjalanan kami dari Palu menuju Dermaga Pangalasiang di Kabupaten Donggala. Nyanyian ombak sesekali terdengar melewati celah-celah selasar tebing dan berpacu bersama bunyi gesekan roda mobil yang kami naiki. Liuk jalan nan bahaya rupanya sudah jadi langganan Pak Taufik sebagai pengelola KM Berdikari II ketika memberikan jasa antar kepada para pemancing.

Dermaga terdekat menuju spot mancing di sana ada di Pangalasiang. Sebuah desa di sudut persimpangan sebelum menuju Toli-toli di bagian utara. Dimana dermaga tersebut, dijadikan lokasi bersandar KM Berdikari II untuk melayani para pemancing sejak setahun belakangan ini.

Kontur laut dengan jajaran palung-palung dalam, yang cenderung dekat dari daratan menjadi keistimewaan. Mayoritas pemancing nyaman, karena dari segi waktu, mancing di Pangalasiang cukup ekonomis. Untuk bisa merasakan sensasi tarikan Dogtooth tak perlu berlayar jauh menuju laut lepas. Dan waktu tiga malam juga bisa disempatkan untuk mampir menikmati nuansa asri pulau-pulau di sana. Hujan deras menyambut kedatangan kami pada siang itu menjelang tiba di mulut dermaga. Perjalanan jauh dari Palu seolah runtuh semua sesaat kapal usai melakukan bongkar muat lalu berjalan ke spot tujuan. Piranti trolling dipasang di buritan, dengan harap ada predator menerkam umpan minnow.

Sementara beberapa dari kami menyiapkan peralatan pancing dan mengikat rangkaian ke umpan buatan. Saya merasakan ketika itu ombak tak ada deburnya sama sekali. Permukaan laut cenderung datar, hanya sesekali galur tercipta dari kejauhan lalu mengalun badan kapal dengan tenang.

Sementara arus bawah cenderung normal dan konsisten hingga trip selesai.
Ada hal unik yang tidak dirasakan di tempat lain ketika mancing di Pangalasiang. Di sana, siang hari adalah waktu tepat untuk merebahkan tubuh mengisi tenaga untuk pertarungan sesungguhnya di malam hari. Ya, Dogtooth di beberapa spot di sana cenderung aktif pada gelapnya malam. Terutama untuk target Dogtooth</> berbobot besar.

Wilayah teritori Tuna Gigi Anjing berada di sepanjang batas terumbu karang dangkal hingga drop-off. Bila sedang berada di laut dangkal, berarti ikan ini menyantap berbagai ketersediaan makanan di sana yang masih terjaga. Dan Pangalasiang adalah jawabannya. Lokasi dimana praktik penangkapan ikan masih dilakukan dalam batas wajar dengan metode tanpa merusak.

Malam Awal
Senja akhirnya lenyap melewati batas cakrawala sore di Sulawesi. Momentum ini menjadi awal dilakukannya kegiatan mancing secara aktif. Sudut-sudut kapal terisi pemancing dengan umpan andalan mereka berupa metaljig untuk teknik jigging. “Kita main di air dengan kedalaman 100 meter lebih,” kata Kapten Sading dari balik kemudi.

Malam hari menjadi saat yang efektif untuk melakukan kegiatan mancing mengingat ikan- ikan di Spot tersebut aktif pada malam hari.

Metaljig Starlit dan Shino 160 gram di buritan kapal jatuh lurus mengarah ke dasar laut secara cepat. Kemudian ditarik secara cepat sambil gagang ril diputar hingga senar tergulung kembali. Cara ini paling ampuh guna mengusik keberadaan monster-monster dasar laut. Stamina kuat tentu sangat dibutuhkan, sebab menarik metaljig seberat 120 gram yang terbawa arus bukanlah hal ringan. “Bulan mati (gelap) merupakan wakut terbaik untuk bisa mendapatkan Dogtooth Tuna di sini,” jelas Pak Taufik. Kebetulan malam itu hingga hari kedua, bulan berpendar redup namun belum gelap total. Kondisi gelap total biasanya akan terjadi pada permulaan hingga akhir penanggalan setiap bulannya.

Fakta lainnya pada trip kami ini juga menemukan bahwa metaljig dengan warna jingga bergradasi merk Starlit rupanya ampuh sekali. Menggugah agresifitas ikan terutama Dogtooth Tuna serta spesies lain seperti Kuwe Mata Belo. Gerak turun yang stabil ditambah mobilitas lure ketika ditarik ke permukaan membuatnya seolah seperti ikan panik. Belum lagi warna dari jig yang mencolok mudah memantulkan cahaya.

Malam Kedua
Malam kedua menjadi pembuktian terungkapnya potensi besar di perairan Pangalasiang. Sempat beberapa kali pindah spot di sekitaran Toguan dan Maputi, akhirnya kapten kapal menempatkan kami di sebuah titik lokasi di air kedalaman 107 meter. Layar alat pendeteksi keberadaan ikan menunjukkan bahwa di dasar laut, ikan sedang bergerombol di habitatnya.

Pada kesempatan kali ini, beberapa dari kami melakukan inovasi berupa penambahan senar dan kail yang dikaitkan dengan umpan irisan tongkol bersebelahan bersama metaljig. Harapannya tidak lain agar peluang umpan dimakan ikan lebih besar karena terdapat pula aroma amis yang muncul dari irisan ikan tadi.

Spesies Tuna Gigi Anjing Menjadi ikan primadona yang didapatkan para pemancing ketika mengeksplorasi Perairan di Pangalasiang, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Percobaan pun berbuah hasil usai Ari Wibawanto dari sudut depan kiri kapal sukses mendaptkan sambaran dari dasar laut. Strike kemudian berpindah ke buritan. Perlawanan keras dari ikan membuat fight harus diserahkan kepada dua orang berbeda. Dan seekor Dogtooth Tuna babon menjadi jawaban atas jerih payah yang dilakukan malam itu.

Malam Akhir
Strike silih berganti terulang ketika malam beranjak menuju dini hari. Sebagian pemancing terlelap mengisi tenaga untuk ‘serangan fajar’. Sebab peralihan dari gelap menuju terang beberapa kali jadi momentum terangkatnya monster-monster Dogtooth di dasar. Sebagian lagi masih sibuk meladeni perlawanan Mata Bongsang hingga kawanan Salem.

Namun karena keterbatasan waktu, belum terbit surya di ufuk timur, kapal harus segera menuju darat lebih awal. Kesempatan untuk bertarung dengan Dogtooth lebih besar lagi sepertinya mesti ditunda di lain waktu. Sebab mancing di Pangalasiang memang diharuskan melakukan persiapan waktu paling tidak 3 malam di atas kapal.

 

Ikan Tangkapan sekor Dogtooth Tuna yang menjadi sasaran utama para pemancing di Perairan Pangalasiang.

 

Usai bersih-bersih peralatan dan berkemas, kami menyempatkan diri untuk menepi di pantai sebelah selatan Pangalasiang. Saya terkagum dengan kreatifitas pengelola KM Berdikari II yang kerap mengajak pemancing menepi sebentar untuk berfoto dengan ikan hasil tangkapan berlatar-belakang indahnya pantai Sulawesi. Mancing di Palu akan membawa kita kepada dua pilihan. Berburu monster Dogtooth, atau termanjakan dengan keindahan alamnya? –RPS