Eksplorasi Handeuleum

Mancing dengan target Mangrove Jack (MJ) merupakan tantangan yang menggiurkan, sesuai dengan namanya, ikan di habitat hutan bakau ini tersebar di Pulau Jawa mulai dari ujung Timur hingga Barat, salah satunya Pulau Handeuleum di Banten. Pulau kecil di Ujung kulon ini memiliki pesona alam serta potensi MJ yang melimpah. Sebab rimbun pohon bakau serta tenangnya aliran air di sepanjang muara menjadi habitat mereka melangsungkan hidup.

Strike Barakuda dan MJ
Sabtu 21 November 2015 menjadi langkah awal Lilik Gus Ananta, Alex Gani, Hengki Zulkarnain serta Adam Budiman untuk berburu ikan-ikan bakau di Pulau Handeleum. Pukul 00.30 sebelum hari berubah terang, para pemancing asal Banten ini tancap gas menuju dermaga Sumur. Dari sana mereka menaiki kapal yang mengantar ke spot. Suara mesin 15 PK dari Jukung berukuran 4 meter menjadi tanda bahwa tim akan segera bertolak dari dermaga.

Sesampainya di Handeleum, tim segera membereskan barang- barang bawaan, hanya alat pancing seperlunya saja yang dibawa. Perjalanan dari dermaga Sumur menuju Pulau Handeleum memakan waktu sekitar dua setengah jam. Setelah dirasa siap, keempat pemancing berangkat menyusuri pesisir Pulau Handeuleum sambil melempar lure ke berbagai titik.
Usaha keras Hengki dari beberapa kali lemparan membuahkan hasil. Sebuah perlawanan datang dari dasar air,

trip-handeleeum5
Seekor Barracuda yang berhasil ditangkap oleh Hengki

Seekor Barakuda berhasil ia naikkan dan tercatat sebagai strike perdana pada trip ini. Kemudian giliran Lilik, lure tipe floating miliknya sukses menggugah selera segerombolan Barakuda. Rupanya target tersebut masih satu kelompok dengan ikan yang diperoleh Hengki. Meski tidak besar, perlawanannya yang agresif cukup merepotkan. Barakudi kecil memiliki kebiasaan hidup bergerombol bersama kawanan mereka, berbeda dengan Barakuda besar yang lebih senang sendiri-sendiri.

Adam memutus rantai strike Barakuda kedua rekannya. Sedang asyik melempar lure dan menggulung senar, tiba-tiba jorannya melengkung disambar ikan Sumpit. Ikan dengan nama lain Archerfish ini memiiki kebiasaan menyemprotkan air dari dasar ke mangsanya di permukaan. Mudah sekali mendapatkan ikan jenis ini di Handeleum. Langkah merilis ikan ditempuh Adam dengan prinsip pelestarian spesies yang dilindungi.

Sebelum sampai ke bibir muara, hujan lebih dahulu turun hingga membuat seisi kapal basah. Alex Gani Gani yang berada di sisi depan Jukung terus memainkan casting ke beberapa sudut. Ia juga sempat mengganti beberapa lure yang dibawa karena tidak puas belum ada sambaran. Keadaan yang sama juga dirasakan oleh rekannya yang lain. Menjelang sore, Lilik kembali strike, seekor Mangrove Jack berukuran 2 Kg naik ke kapal. Perolehan ini menutup petualangan tim di hari yang pertama.

Hari Kedua
Sejak Fajar menyingsing, di penginapan milik warga Handeleum, tim melanjutkan petualangan hari kedua. “Let’s go, ikan sudah menunggu kedatangan kita,” celetuk kapten kapal. Spot pinggir muara dipilih menjadi tujuan awal casting. Perlahan pukul 07:00 WIB kapal mulai menyusuri perairan Handeleum.

Lagi-lagi Hengki yang menjadi aktor pembuka strike pada trip hari kedua tersebut. Joran miliknya melengkung seirama dengan bunyi putaran ril. Entah apa yang menyambar umpan miliknya hingga dia nampak begitu kegirangan. Ketika sudah mulai dekat ke kapal rupanya seekor MJ. “Akhirnya Hengki strike MJ di sini,” ujar Alex.

Giliran Alex melempar minnow ke sebuah titik. Titik yang tepat ia pun strike. Bila dilihat dari cara ikan menarik lure sepertinya bukan MJ, melainkan spesies lain yang lebih agresif. Sepertinya seekor Giant Trevally mengoyak permukaan laut dan membuat Alex cukup kewalahan. Joran berukuran PE 2 rupanya membuat ia bekerja keras menahan perlawanan ikan.

Rasa khawatir tersirat kala ikan membawa lure menjauhi kapal menuju spot karang. Benar saja, fight berakhir dengan putusnya senar. Kejadian yang sama juga dialami Adam. Menggunakan ukuran piranti yang sama dengan milik Alex, Adam belum berhasil mengangkat ikan ke atas kapal karena putus senar. Monster- monster Handeleum rupanya sedang perkasa hingga membuat kedua pemancing gigit jari. “Aduh putus, mungkin belum rezekinya. Yang penting sudah merasakan tarikan ikan,” ucap Adam menghibur diri.

Blackbass
Beberapa menit kemudian kapal kian mendekati bibir Muara Cibembem yang menjadi lokasi utama perburuan hari kedua. Setibanya di spot, keempat pemancing mulai melemparkan lure terus menerus menargetkan Blackbass namun belum juga mendapatkan pertanda akan adanya ikan tersebut.

Menyusuri muara di Pulau Handeleum merupakan kegiatan wildfishing yang luar biasa. Kealamian serta masih liarnya spot- spot di sana menghadirkan bahaya bagi siapapun yang berkunjung. Kehadiran predator seperti buaya muara bukan lagi hal aneh, para pemancing harus ekstra hati-hati jika berhadapan dengan kondisi ini, disarankan mengurangi pergerakan dan menghentikan segala aktifitas. Pengalaman tersebut sempat dirasakan oleh keempat pemancing ini saat perjalanan menyusuri aliran muara. Tidak mau ambil resiko, kapten akhirnya memutar haluan dan mencari lokasi lain yang sekiranya aman.

trip-handeleeum4
Mangrove jack yang berhasil ditangkap oleh Alex

Benar saja, Alex yang sejak kemarin penasaran dengan potensi ikan di Handeleum mengawali strikenya di hari kedua ini. Seekor MJ dinaikkan ke atas kapal. Aksi tersebut disusul oleh Lilik dan juga dirasakan Adam dan Hengki. Rasa lelah penuh perjuangan akhirnya membuahkan hasil, beberapa ekor MJ menjadi Raihan yang mampu menghapus letih mereka.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB, kapten mengajak para pemancing untuk segera meninggalkan lokasi agar tidak kemalaman. Sedang asyik menyusuri muara, terjadi kejutan berupa tenggakan dari dasar air. Seketika itu pula Adam dengan sigap mengambil joran untuk casting ke titik tenggakan tadi. Namun kapten kapal yang melihat tindakan Adam segera melarangnya untuk menghentikan kegiatan mancing. “Jangan, tujuan kita pulang, itu bukan ikan. Apa pun itu jangan dipancing. Jangan cari masalah”, kata kapten. Adam pun menuruti.

Kapal akhirnya sampai diantara batas pulau-pulau kecil sekitar Handeleum. Tiba-tiba mesin 15PK yang menempel di buritan jukung mengalami masalah. Rupanya baling- baling mesin tidak berputar sehingga membuat Jukung terombang ambing di tengah lautan. Kapten mencoba melakukan perbaikan namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya dengan sisa tenaga yang ada keempat pemancing tersebut bersama-sama mendayung Jukung dan pada akhirnya sampai ke pinggir Pulau Handeleum.

Sesampainya di basecamp, kapten segera menelepon bantuan ke dermaga Sumur untuk meminta dikirim satu kapal guna menarik Jukung. Sambil menunggu bantuan datang, para pemancing asal Banten tersebut istirahat sejenak dan menyampaikan kabar kepada keluarga di rumah bahwa semua baik-baik saja.

Akhirnya kapal bantuan datang. Jukung diikat di belakang kapal bantuan, sementara tim berada di kapal tersebut. Hingga akhirnya daratan Sumur terlihat semakin mendekat. Petualangan casting di kawasan Handeleum kala itu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan oleh mereka. Bukan hanya ikan, berbagai kejadian yang mereka alami terekam indah di sanubari. – Lilik Gus Ananata dan Alex Gani