Berkah Rumpon Utara Jakarta

Tidak lama ketika timah pemberat mencapai dasar laut, tarikan kuat tiba-tiba datang. Getaran dari dasar laut merambat melalui senar menuju pangkal joran sehingga membuat seluruh piranti bekerja lebih keras. Perlawanan ikan-ikan penghuni rumpon nampaknya hadirkan sensasi menakjubkan. Tidak besar memang, namun cukup menyenangkan.

Kegiatan mancing di spot rumpon memang kerap mendatangkan antusias besar bagi para pemancing. Apalagi alasannya, jika bukan hasil yang menjanjikan karena rumpon merupakan titik berkumpulnya ikan-ikan penghuni terumbu karang. Kali ini, saya berkesempatan untuk menjajal menggeledah isi rumpon kakap di Laut Jawa utara Jakarta.

KM Jabbar dengan dua unit mesin tempelnya ukuran 100pk yang kami tumpangi mulai menerjang malam dari dermaga Bahtera Ancol, Jakarta. Sesuai rencana, 5 titik keberadaan rumpon akan disambangi kembali setelah sekitar 3 bulan sebelumnya selesai ditanam. “Rumpon tersebut hanya kita cek keberadaannya apakah sudah dihuni ikan atau belum,” tiba-tiba kalimat itu keluar dari ruang kemudi yang tidak sempat saya lihat siapa yang bicara barusan.

Spot rumpon pertama ditempuh dengan singkat selama berkisar 2 jam. Jelas jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata kapal di sana yang menggunakan mesin di bawah 100pk. Kapten Tono pun langsung memarkir kapal tepat di atas rumpon. Tentu saja layar fish finder dan koordinat yang sudah disimpan jadi patokan agar kapal bisa menjangkar dengan sempurna selain keahlian dari sang kapten itu sendiri.

 

Saat menggunakan teknik seperti ini (Bottom Fishing), pemancing harus ekstra hati – hati dalam menurunkan umpan, karena selain strike, arus kuat juga kerap membuat senar melintang satu sama lain.

Teknik mancing dasaran (bottom fishing) dengan umpan irisan cumi atau tongkol jadi senjata utama ketika mancing di atas rumpon. Timah berbagai ukuran jadi pemberat yang disesuaikan dengan keadaan arus dalam laut. Kali ini, kami gunakan timah ukuran J6- yang beratnya sekitar 160 gram. Serangkaian proses tarik menarik dengan ikan nampaknya jadi kegiatan menyenangkan. Umpan turun, kemudian ikan naik, tidak butuh waktu lama untuk bisa merasakan sensasi ini.

Tapi cerita menyenangkan tidak selamanya bisa dirasakan. Sebab mancing di rumpon beresiko besar membuat kail kerap tersangkut di bagian rumpon bahkan karang-karang di sekitarnya. Ada beberapa faktor tersangkutnya mata kail, pertama arus bawah laut yang kuat-serta perlawanan ikan nan radikal.

Bila sudah seperti ini, hanya ada dua kemungkinan, selamat dari sangkutan atau senar putus karena tak kuat menahan tarikan. Untuk itu, gerak cepat wajib dilakukan saat strike agar ikan tidak membawa senar masuk ke dalam rumpon.

Kakap Merah yang menjadi primadona pada perairan karang seperti ini.

Kakap Merah (Lutjanus sp) adalah salah satu ikan primadona bagi pemancing yang umumnya menghuni daerah perairan karang ke daerah pasang surut di muara. Bahkan, beberapa spesies cenderung menembus sampai ke perairan tawar. Kakap merah berukuran besar umumnya membentuk gerombolan kecil dan cenderung berada di dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam dari pada jenis kakap berukuran kecil lainnya.

Sementara kakap kecil, seringkali dijumpai beragregasi di dekat permukaan perairan karang pada waktu siang hari. Sementara pada malam hari, umumnya menyebar guna mencari makanan baik berupa jenis ikan maupun crustacean (Udang, Kepiting, dsb). Ikan-ikan berukuran kecil ini untuk beberapa jenisnya juga kerap menempati daerah bakau yang dangkal atau daerah-daerah yang ditumbuhi rumput laut.

Potensi ikan Kakap Merah jarang ditemukan dalam gerombolan besar dan cenderung hidup soliter dengan lingkungan yang beragam mulai dari perairan dangkal, muara sungai, hutan bakau, daerah pantai sampai daerah berkarang atau batu karang.

Perkembangan Penggunaan Rumpon
Sebagai terumbu karang buatan, nelayan sudah memanfaatkan keberadaan rumpon sejak lama. Ada beberapa jenis material rumpon- kakap yang bisa digunakan, bentuk kubus yang terbuat dari batang pohon yang diikat lalu dihiasi daun kelapa menjadi bahan favorit karena lebih ekonomis.

Bagi nelayan maupun pemilik kapal, keberadaan rumpon merupakan hal yang direkomendasikan guna mempermudah-` mereka dalam mendapatkan ikan. Khusus pemilik kapal, rumpon bisa menjadi ‘tabungan’ atau alternatif mancing ketika mereka membawa tamu pemancing jika hasil pancingnya belum maksimal.

Pada tahun 1986, Presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto mengunjungi nelayan di Pulau Bulat, Kep. Seribu usai mancing di rumpon menggunakan kapal motor ‘Semar’. Saat itu, Presiden Soeharto mengajukan pertanyaan kepada warga manfaat dari rumpon yang sudah ditanam oleh pemerintah? Salah satu nelayan menjawab bahwa keberadaan rumpon sangat membantu. Para nelayan tidak perlu lagi berlayar lebih jauh, sehingga biaya operasional mereka menjadi lebih hemat.

Pada masa jabatannya, Presiden RI ke-2 tersebut memang terkenal gemar melakukan kegiatan mancing, terutama di perairan Kep. Seribu. Saat itu, pemerintah kerap membuat rumpon-rumpon dari becak-becak yang diamankan dan bangkai bus kota yang sudah tidak digunakan lagi. Rumpon tersebut ditanam sejauh sekitar 4-5 mil dari pantai.

Polemik izin pembuatan rumpon pun timbul seiring penyelewengan yang kerap dilakukan oleh pihak oknum negara asing, hingga akhirnya bermuara dengan terbitnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 26/PERMEN-KP/2014 tentang rumpon. Bagi setiap orang yang melakukan pemasangan rumpon di wilayah perikanan Indonesia diwajibkan memiliki Surat Ijin Pemasangan Rumpon (SIPR).

Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP, Eko Djalmo Asmadi memaparkan bahwa rumpon-rumpon yang- dipasang tidak sesuai ketentuan, akan mempengaruhi jalur migrasi ikan. Karena ikan akan terkumpul di rumpon-rumpon yang dipasang, sehingga ikan yang bisa ditangkap nelayan menjadi berkurang. “Tentunya hal ini berlaku untuk rumpon ikan-ikan migrasi seperti Tuna contohnya, berbeda dengan spesies-spesies karang laut dangkal seperti Kakap Merah,” ujar Eko.

Hasil tangkapan tim yaitu Kakap Merah yang menjadi salah satu spesies yang menghuni karang- karang di laut dangkal.

Wisata mancing yang berkembang di wilayah Kep. Seribu terus merangsang para pegiat bisnisnya untuk lebih giat menanam rumpon. Sebagai ‘rumah’ ikan yang dimanfaatkan untuk spot mancing, para pegiat tersebut, baik pemilik jasa wisata mancing maupun pemancing sendiri harus menerapkan kesadaran akan kelestarian ekologi laut. – Rico Prasetio