Anomali Di Utara Laut Jawa

Sedang menikmati makan siang, kami terpenjerat dengan joran yang menekuk membentuk sudut ekstrem dibarengi derit ril keras sekali. Tak lama berselang, sesuatu keluar dari dalam laut melakukan ronta. Permukaan laut pun membuyar ketika seekor Marlin yang tersentak itu menari ke udara dan terjun lagi ke Segara.

Geliat mancing di Kepulauan Seribu memang kerap menghadirkan lebih dari ribuan cerita, dari yang biasa-biasa saja hingga momentum tak terduga. Target Tenggiri pun jadi buruan utama guna melengkapi hasrat membawa pulang hasil pancing dari laut utara Jawa. Ikan epipelagis tersebut jadi idaman karena mahsyur akan rasa dagingnya yang gurih untuk aneka olahan makanan.

Tenggiri (Scomberomorus Commerson) merupakan ikan bersifat migratory yang penyebarannya mencakup seluruh perairan wilayah Pasifik Barat, dari Afrika bagian utara dan Laut Merah, sampai ke perairan Nusantara, Australia, Fiji dan terus ke perairan Cina hingga Jepang.

Tenggiri
Mancing Tenggiri di Kepulauan Seribu, anda harus siap berangkat lebih pagi sebelum surya terbit. Sebab kita harus secepat mungkin tiba di spot berjarak 35 mil dari dermaga Tanjung Pasir untuk mendapatkan umpan hidup berupa ikan Tembang, terlambat sedikit, jangan harap bisa mendapatkan umpan. Tembang bisa didapatkan melalui teknik ngotrek menggunakan rangkaian mata pancing berjajar yang dililit biasanya menggunakan bulu ayam yang halus. Dari spot Tembang bernama Karang Timbang itu, perburuan dimulai.

Semua pemancing sudah tahu bahwa tujuan dikumpulkannya Tembang-tembang tadi tidak lain digunakan untuk umpan. Rangkaian koncer kemudian dibuat, lalu Tembang-tembang tadi dikaitkan-tubuhnya ke mata kail secara perlahan agar bisa berenang di air lebih lama. Guna menggoda Tenggiri, Si Predator Gigi Tajam. Kami mencoba turunkan Tembang-tembang tadi dan sesekali menggerakkan, menaik-turunkan joran dan senar untuk memastikan apakah umpan masih hidup atau mati. Jika mati, terpaksa diganti dengan Tembang baru yang terdapat di bak penampungan perahu. Beberapa penyedia jasa perahu mancing menuju Kepulauan Seribu memiliki penampungan khusus di bawah perahu untuk meletakkan Tembang agar tetap hidup.

Beberapa kali dari kami sempat merasakan strike Tenggiri di spot Karang Timbang. Kondisi angin timur yang sejajar dengan arus bawah air menciptakan situasi terbaik hingga membangkitkan giat makan ikan-ikan, termasuk Tenggiri. Strike diawali oleh Alexius Gunawan, kemudian disusul Joshi Sjarif, Adi dan saya sendiri. Terkadang menikmati perlawanan Tenggiri hadirkan sensasi tiada dua. Ikan ini memiliki tarikan khas, mulanya membuat ril menderit kencang sebagai perlawanan awal. Namun ditengah fight, tiba-tiba mengendur. Banyak yang mengira ikan terlepas dari kail, padahal justru mendekat ke arah pemancing.

Sebelum matahari beranjak lebih terik, kami bergerak menuju spot potensial lainnya di ‘Kapal Karam’. Spot Kapal Karam dari lokasi sebelumnya berjarak sekitar 10 mil dan berdekatan dengan Pulau Peniki. Sebuah lokasi perairan lebih dalam, dimana pada beberapa tahun lalu pernah terjadi peristiwa sebuah kapal tenggelam. Kapal tersebut menciptakan ekosistem baru alias rumpon bagi ikan-ikan di dalam laut.

Di spot ini, Joshi jadi bintangnya ketika sukses mengawali serta mendominasi perolehan Tenggiri dibanding rekannya yang lain. Perolehan Tenggiri pada trip kali ini benar-benar sesuai dengan perkiraan awal. Bahwa belakangan ini, Tenggiri ‘sedang aktif’.

Marlin
Namun saat siang menjelang, ketika matahari sedang panas-panasnya, joran yang saya pegang menukik tajam. Saat itu keadaan di atas kapal tiba-tiba menjadi kacau, perlawanan begitu kuat, sampai tiba-tiba sesuatu menghentak dan keluar dari dalam laut.

Rupanya seekor Marlin menari-nari di udara. Dari lebarnya bentang sirip Marlin yang terlihat dapat diperkirakan bahwa ikan tersebut beratnya lebih dari 50 kg. Estimasi tersebut diperkuat dengan kerasnya tenaga yang tercurah atas perlawanan ikan. Dari awal saya tidak yakin bahwa ikan tersebut akan bisa dengan mudah ditaklukkan, mengingat senar pada ril sudah memudar warnanya. Tentu sangat mempengaruhi kekuatan senar dalam menahan perlawanan ikan.

Tiga puluh menitan berlalu, kekhawatiran akhirnya benar- benar terjadi. Kondisi senar yang rapuh seolah membuat perlawanan selama setengah jam itu jadi sia-sia. Ya, kuatnya Marlin yang meronta berhasil memutuskan senar dan menghadirkan kekecewaan bagi saya waktu itu.

Strike Marlin (Istiompax Indica) di Kepulauan Seribu bukan sekedar hisapan jempol dan apa yang sudah diceritakan di atas tadi mengenai Marlin yang ‘menang’ bukan sebuah kekecewaan. Bahwa pada trip mancing sebelumnya, kami lebih dahulu sukses menaikkan 2 ekor Marlin. Pulau Peniki, kembali jadi arena pembuktian potensi keluarga ikan berparuh.

Mulanya, pada trip di akhir April itu, Tenggiri menjadi target buruan seperti biasanya ketika mancing di sana. Namun ternyata konceran juga diminati oleh Sang Pemburu dari lautan, Marlin. Deden jadi pemancing pertama yang merasakan langsung bagaimana kuatnya Marlin ketika melakukan perlawanan siang itu.

Derit ril membuat Deden bertindak cepat menguasai keadaan bahwa umpan miliknya disambar ikan. Sudah jadi ciri khas, dimana Marlin kerap timbul menerabas ke permukaan untuk menergap umpan, apalagi ketika terperangkap mata kail dalam upaya melepaskan diri. Sadar sedang strike Marlin, kapten kapal segera memutus jangkar dan membawa kapal mendekati titik Marlin tersebut.

Tidak mudah memang mengatasi perlawanan sang ‘ikan pedang’ ini. Berat tubuh proposional mendukung Marlin untuk bergerak radikal sehingga menghadirkan sensasi menakjubkan bagi pemancing. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam bagi Deden untuk bisa menaikkan Marlin ke atas kapal. Dengan sisa tenaga, dengan cucuran peluh di seluruh pori-pori. Pencapaian yang bagus dari Deden.

Anomali
Cerita menakjubkan datang memasuki sore hari ketika jam menunjukkan pukul 14.30 WIB. Mulanya saya mendapatkan kesempatan strike terbaik dari perlawanan seekor Marlin, persis seperti yang sudah dirasakan Deden sebelumnya.

Merasa tidak yakin, perlawanan kuat sekali, tackle pun rasanya tidak tepat untuk bisa menaikkan ikan, saya memasang badan bertahan sebisa mungkin. Pertaruhan di atas nalar pun dilakukan, apakah piranti joran 14 lbs dengan senar PE 1, leader 15 lbs yang tergulung ke dalam ril 2500 bisa menaikkan ikan itu?

Kapal kembali mendekat ke arah ikan yang meronta. Waktu dan tenaga terbuang menyanggupi perlawanan hingga akhirnya kesabaran pun membuahkan hasil. Marlin kelelahan, gerak cepat coba saya lakukan dengan menariknya ke arah kapal untuk kemudian digancu oleh ABK. Senang sekali rasanya mampu menaikkan ikan sebesar itu, se-agresif itu, menggunakan piranti dibawah rata-rata. –Fery Yudhistira