Bagaimana Menentukan Keberadaan Yellowfin Tuna?

Amin Maulani

Ikan YellowFin Tuna (YFT) merupakan jenis ikan pelagis yang bisa ditemui pada kedalaman air 80 meter, meskipun pada kondisi tertentu mampu berenang hingga mencapai kedalaman 1000 meter lebih. YFT memiliki naluri berburu yang luar biasa dengan kemampuan mengidentifikasi target buruan dengan cukup baik, mulai dari dalam air bahkan hingga ikan yang sedang melompat di atas permukaan mampu dibidik dengan tepat. Ikan ini merupakan spesies yang pada musim-musim tertentu melakukan migrasi mengikuti perubahan musim dan cuaca. Kita bisa menemukan jenis ikan YFT pada bulan-bulan tertentu berada di tempat tertentu pula, atau sering disebut ‘musim tuna’ bagi para nelayan.

Setiap tempat beda. Misalkan pada bulan Maret, jenis YFT sudah bisa dijumpai di perairan Aceh dan bulan Juni-Juli sudah sampai di perairan laut Banda. akan tetapi pada daerah daerah tertentu terdapat jenis ‘Tuna Ground’, jenis tuna ini lebih memilih menetap pada lokasi tertentu sehingga walaupun bukan musim tuna di daerah tersebut masih bisa dijumpai seperti di wilayah Aceh.

YFT akan berpindah menuju tempat lain pada musim berikutnya yang rata-rata melintasi jalur yang sama, seperti di Samudera Indonesia. Namun sayangnya saat ini di perairan mulai dari Banda Aceh hingga laut Banda banyak ditanam rumpon Tuna yang seperti cincin, sehingga YFT jarang masuk hingga ke lokasi pinggir pantai. Karena dari rumpon-rumpon tersebut, ketersediaan makanan berupa ikan-ikan kecil bagi tuna sudah sangat melimpah. Jenis tuna yang bisa dijumpai di indonesia selain YFT antara lain Tongkol/Cakalang (Skip Jack), Tuna Gigi Anjing (Dogtooth Tuna), Tuna Mata Besar (Big Eyes) dan Tuna Sirip Biru (Bluefin Tuna), meskipun sedikit yang pernah berhasil ditangkap dekat dengan perbatasan Australia.

Bagaimana cara memancingnya?
Metode atau teknik mancing tuna YFT  sangat beragam karena ikan tuna mencari makan mulai dari kedalaman 80 meter hingga permukaan air. Memancing YFT bisa dilakukan dengan beragam teknik, baik Koncer, Jigging/Casting maupun Trolling dengan umpan cumi dan digantung di permukaan air menggunakan tiang-tiang ginggi, atau memancing menggunakan layang-layang di sekitar rumpon. Untuk target ‘Tuna Ground’ lebih efektif teknik koncer menggunakan umpan hidup seperti Cakalang atau Bandeng, karena ikan hidup akan berenang pada kedalaman tertentu mengikuti rombongannya sehingga umpan mudah dimangsa tuna. Berbeda dengan teknik Jigging meskipun pada kondisi tertentu juga efektif.

Oleh karena itu, ketika gerombolan tuna terlihat di permukaan (bouling), kita bisa menerapkan teknik Popping dan beberapa teknik mancing top water. Sedangkan untuk target tuna yang terus berpindah mengikuti rombongan ikan lain seperti lumba-lumba, kita bisa menerapkan teknik trolling dengan menggunakan tiang-tiang bambu tinggi menggunakan umpan cumi-cumian yang digantung kira-kira 1-2 meter dari permukaan air dengan ujung line utama diberi pemberat. Sehingga ketika line utama ditarik, umpan cumi-cumian akan melompat-lompat di permukaan. YFT akan lebih agresif memburu mangsa pada siang hari tapi biasanya pada awal gelap dan sepertiga malam YFT juga sering tertangkap oleh pemancing atau nelayan Tuna.- Amin Maulani