Lina Sabrina: Ketika Mimpi Menjadi Nyata

Hobi memancing sejak duduk di bangku sekolah dasar terus ia pertahankan hingga kini. Di mulai pada masa kanak-kanak, keterbatasan peralatan tidak sekalipun mengurangi semangatnya untuk blusukan ke rawa-rawa, tepian sawah hingga lokasi-lokasi yang penuh bahaya.

Semangat tak kenal lelah membawa lina akhirnya keluar sebagai juara pertama pada perlombaan mancing Kopdarnas Forcasi di Situ Cipule, Karawang, Jawa Barat akhir November lalu. Perolehan itu memecahkan rekor sebelumnya sebagai pemancing perempuan pertama yang memenangkan perlombaan. Bagaimana cerita perjuangan Lina hingga mampu menjuarai lomba mancing tersebut. Simak wawancara kami dengannya berikut ini:

PROFIL
Nama : Lina Sabrina
Profesi: Ibu rumah tanga
Asal: Lampung Tengah

 

Bisa diceritakan awal mula Anda menggeluti kegiatan mancing?
Dahulu pada saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) saya sudah senang sekali dengan yang namanya ngebolang di sawah-sawah untuk memancing. Joran bambu seadanya menjadi senjata untuk mencari ikan, hingga sekarang sudah banyak ada alat-alat pancing modern. Teknik casting juga belum digunakan, sehingga ngenul menggunakan bambu kecil panjang yang mudah melengkung jadi alat yang digunakan. Kemudian bambu tersebut dipasangkan senar sama panjang dengan bambu dan selanjutnya tinggal umpan pada joran dicelupkan ke tepian rawa secara naik turun sampai disambar ikan. Sementara yang mengenalkan piranti modern adalah sang suami hingga saat ini saya keranjingan dengan teknik casting.

Dahulu orang tua sempat melarang saya mancing, namun saya tetap nekat dan harus diam-diam. Alasan utama saya menggeluti kegiatan mancing selain bisa mendapatkan makanan (lauk) adalah sebagai penghibur hati dikala pikiran jenuh dari berbagai macam hal. Mancing bisa menghadirkan kesenangan, hiburan dan ketenangan sehingga pikiran kembali jernih menikmati keindahan alam dan sebagainya. Saya gemar mencari target ikan Gabus dan Nila.

Apa yang anda rasakan ketika dahulu, sewaktu mancing hanya dengan persiapan tradisional?
Masing-masing masa memiliki perbedaan dan ceritanya masingmasing. Walau dahulu belum ada peralatan mancing secanggih saat ini, namun kesenangan didapatkan dari masih asrinya spot-spot mancing di wilayah tempat tinggal saya saat kecil di Bandar Sakti, Lampung Tengah. Selain itu, ikan-ikan target juga masih mudah untuk didapatkan tanpa harus khawatir mencari spot berpotensi lainnya. Sementara perbedaannya dengan sekarang, aneka peralatan pancing modern dengan variasi bentuk, kegunaan dan harga memudahkan para pemancing dalam memenuhi kebutuhan alat pancing mereka. Namun jika dilihat dari zaman dahulu, saat ini spot mancing dengan potensi ikannya terbilang sulit karena berbagai macam faktor, sebut saja setrum atau perusakan dengan penebaran racun dan peralihan fungsi lahan. Spot Rawajitu dan Bratasena adalah beberapa lokasi mancing idaman saya ketika kecil di Lampung.

Bagaimana cara Anda menyiasati minimnya spot mancing saat ini?

Walau sibuk menjadi Ibu rumah tangga namun tidak menghalangi keinginanya untuk menyalurkan hobi memancingnya.

Untuk menyiasati sulitnya mendapatkan spot-spot mancing terutama di daerah tempat tinggal saya saat ini di Serang, Banten, saya bersama suami dan adik saya terus melakukan eksplorasi ke tempat-tempat baru. Jika ada kesempatan waktu panjang, saya bersama suami dan adik laki-laki saya terus melakukan pencarian terhadap spot mancing yang sekiranya masih memiliki potensi di sekitar tempat tinggal saya. Di Lampung, area bekas galian excavator di kawasan kebun tebu (lebong) menjadi lokasi idaman castinger di sana. Tinggal bagaimana kita bisa membaca situasi dan titik-titik habitat predator-predator air tawar.

Selama menggeluti hobi mancing, adakah momen yang tidak bisa dilupakan dalam hidup sampai saat ini?
Ada, pada tahun 2005 di Bratasena, Lampung. Waktu mancing masih menggunakan bambu kecil, saya beranikan diri berangkat seorang diri memasuki rawarawa pada saat suami sedang bekerja. Saat itu pukul 07:00 WIB, saya coba mancing ikan Nila menggunakan umpan cacing. Kebetulan cuaca panas dan hingga pukul 09:00 WIB saya belum juga mendapatkan ikan. Saya melihat udang-udang kecil berloncatan seperti dimakan ikan. Lalu saya cari udang menggunakan kedua tangan dengan maksud saya gunakan sebagai umpan. Setelah umpan saya celupkan, tak lama senar pancing berjalan. Saya tarik lurus joran agar tidak patah dan ternyata saya mendapatkan indukan Nila sekitar 1 Kg lebih.

Mengetahui ikan lebih tertarik dengan udang, saya langsung mengumpulkan beberapa udang untuk umpan hingga membuat puluhan ekor babon Nila saya dapatkan. Kondisi itu membuat saya kesulitan membawa hasil pancing. Saking banyaknya, ikan Nila tersebut saya bagikan kepada beberapa tetangga dekat rumah. Orang-orang yang tahu sempat tidak percaya, namun setelah saya ajak ke lokasi, mereka pun melihatnya secara langsung.

Bagaimana persiapan anda sebelum ikut Kopdarnas Forcasi kemarin hingga keluar sebagai pemenang?
Saya bersemangat sekali (mengikuti Kopdarnas). Walau ada sedikit kendala ketika ingin berangkat dari rumah, saya bingung naik kendaraan apa untuk sampai ke Cipule. Namun setelah posting ke Facebook dengan maksud menanyakan akses kendaraan ke Karawang dari Serang, akhirnya rombongan pemancing Lampung yang dikomandoi oleh Ujang Beo menawarkan tumpangan. Itu yang membuat rasa percaya diri bercampur senang menghinggap, hingga sampailah kami di lokasi Kodparnas. Keterbatasan alat juga tidak menghalangi keinginan saya untuk bisa bertemu dengan para pemancing dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Lina Sabrina saat mendapatkan hadiah setelah berhasil sebagai juara Pertama saat lomba casting di KopdarNas Forcasi di Situ Cipule, Minggu (27/11).

Pertanda akan datangnya juara mungkin berawal dari mimpi pada malam sebelum dilaksanakannya Kopdarnas. Malam itu, saya bermimpi mendapatkan kocokan arisan dengan nomor 10. Seketika saya bercerita kepada keponakan saya bahwa nomor 10 adalah angka yang sempurna (akan mendapatkan keberuntungan). Benar saja, perlombaan casting baru saja dibuka, saya berhasil strike Gabus dengan panjang 39 cm. Ketika itu saya melihat ada ikan yang nampak di permukaan. Saya pun melempar satu-satunya umpan yang saya bawa yaitu soft frog dan disambar kemudian sukses landed. Ikan ini pula yang mengantarkan saya keluar sebagai juara. Alhamdulillah, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan.

Lina saat berhasil menaikkan ikan gabus sepanjang 39cm di KOPDARNAS FORCASI 2016

Ke depannya secara pribadi, apa harapan anda terhadap dunia pemancingan di Indonesia?
Semoga para pemancing di Indonesia bisa lebih bersatu lagi dalam berbagai hal. Terutama bersatu untuk menjaga kelestarian alam di bumi ini, khususnya kelestarian habitat ikan-ikan. Tindakan ini dikatakan menjadi tanggung jawab kita bersama demi masa depan nanti. Forcasi sebagai wadah para komunitas- komunitas casting semoga juga bisa tetap aktif memberikan Secara pribadi, saya bercita-cita ingin mancing keliling Indonesia. Merasakan sensasi strike ikan-ikan predator di belahan bumi pertiwi. Palembang dan Kalimantan adalah dua wilayah yang ingin sekali saya datangi. Sebab keduanya memiliki ciri khas predatorprdeator air tawar yang menarik minat para pemancing untuk mendatanginya. Seperti di Kalimantan misalnya yang terkenal akan alamnya yang masih asri, dimana menjadi habitat beberapa predator air tawar seperti Toman dan keluarga Snakehead lainnya. Sejauh ini, strike Toman baru saya dapatkan di Lampung.

Kalau disuruh memilih, mancing di Kalimantan atau ikut Kopdarnas bersama castinger se-Indonesia?
Walau pun mancing ke Kalimantan dengan target Toman yang saya ingin sekalipun, saya lebih memilih ikut Kopdarnas. Karena kegiatan tersebut bisa mempertemukan kita dengan para pemancing (castinger) dari seluruh Indonesia. Apapun itu alasannya yang penting bisa berkumpul dengan temanteman castinger, bertukar fikiran dan pengalaman satu sama lain jauh lebih menyenangkan. – RPS