Lia Lembana: Muda dan Pemberani

Mendapatkan ikan spesies tertentu khususnya keluarga billfish dengan bobot besar menjadi cita-cita beberapa pemancing. Sensasi perlawanan nan menggoda hingga terjangan menembus permukaan air laut jadi alasannya. Hal ini membawa Lembana, Pemancing perempuan asal Medan mendatangi kawasan spot fishing Kuala Rompin, Malaysia beberapa kesempatan hingga sukses merasakan tarikan Sailfish beberapa kali.

Tumbuh sebagai anak dari ayah penghobi mancing, Lia mencoba mengikuti jejak orantuanya tersebut. Kesempatan bergabung di Arena pancing tidak disia-siakana Lia dengan menyerap setiap ilmunya yang ia dapatkan. Kini perempuan berusia 25 tahun itu sendiri terjun ke dunia pemancingan dan aktif diberbagaia kegiatan trip mancing sejak emapt tahun lalau. Bagaimana keseruan Sailfish? Simak wawancara kami dengan Lia berikut ini:

berpose-cantik-dengan-ikan-hasil-tangkapannya-lagi
Nama : Lia Lembana
Profesi : Wiraswasta
Asal : Medan, Sumatera Utara

Apa yang mendasari anda untuk terjun menggeluti kegiatan mancing? dan sejak kapan?
Bapak saya hobinya mancing. Pertama, sejak berumur 12 tahun saya suka ikut dia pergi mancing. Awalnya mancing seperti galatama di kolam-kolam bareng Bapak, lalu mulai ikut mancing di laut. Di umur 21 tahun sampai sekarang ini saya mencoba lebih mendalami ke sport fishing terutama di laut berkat dorongan dari rekan-rekan komunitas.

Kebetuan saya tergabung ke dalam sebuah komunitas mancing bernama Team Serena Fishing (TSF) sejak 4 tahun lalu. Awal mulanya komunitas ini terbentuk karena orang tua saya memiliki sebuah toko pancing yang kerap dijadikan lokasi berkumpul para pemancing-pemancing di medan dan sekitarnya. Oleh karena itu lah dibuat sebuah komunitas menggunakan nama toko tersebut. Biasanya kalau sudah masuk fishing season aku suka nanya ke teman-teman, ada trip mancing gak begitu. Jadi dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan sih waktunya. “Seberapa rutin trip mancing?” Gak tentu juga. Biasa sih 1 tahun bisa 3x nge-trip. Dua tahun ini udah agak dikurangi karena lagi banyak perkerjaan.

Di wilayah/spot mana anda pertama kali mancing di laut?
Di Pulau Pandang, Batu Bara, Medan, itu merupakan lokasi pertama kali mancing ke laut. Untuk menuju lokasi mancing tersebut dari kota medan sekitar 3 jam ke Pelabuhan batu bara untuk kemudian menyebrang ke Pulau Pandang. Namanya juga baru pertama kali (mancing di laut) jadi masih bingung gimana gitu. Ha..ha..ha.

Kesempatan perdana mancing di laut itu menggunakan teknik popping dengan target ikan Giant Trevally (GT). Selesai mancing yang dirasakan pasti seluruh badan lelah sekali, namun untuk terus belajar saya tidak kapok dan tetap menikmati kegiatan tersebut. Pertama kali popping langsung berhasil strike GT walau ukurannya belum besar.

lia-berpose-dengan-ikan-hasil-tangkapannya
Lia berpose dengan ikan tangkapannya

Ada banyak metode/teknik mancing, mana yang lebih anda sukai?
Iya, aku lebih cenderung menyukai casting. Sebab disamping casting lebih ringan, teknik mancing ini lebih banyak dan bisa diterapkan di berbagai lokasi mancing/spot. Bisa di sungai, danau, bahkan juga bisa diterapkan di laut. Lure yang digunakan pada teknik mancing ini pun memiliki banyak bentuk/warna (unik). Aku juga suka koleksi lure yang lucu-lucu bentuknya seperti lure dari salah satu produsen pancing yang mengeluarkan lure berbentuk figur ‘Angry Birds’. Jadi lure-lure tersebut menjadi lure kesayangan dan tidak pernah digunakan. Pertama warna dahulu yang dilihat, yang sekiranya eye catching, baru bentuknya. terakhir harganya. Ha..ha..ha..

Selama memancing, daerah/spot mana saja yang pernah anda kunjungi?
Pekanbaru, Aceh, Bali, Malaysia, terakhir ke Maldives. Semua berkesan sih karena bisa bertemu dengan teman-teman baru. Pengalaman paling berkesan ketika mancing yaitu saat mengikuti turnamen Billfish di Rompin, Malaysia tahun 2014. Banyak peserta dari luar (mancanegara), jadi ramai sekali serta bisa banyak belajar dan sharing bareng peserta lainnya.

ditemani-salah-satu-crew-dari-stasiun-tv
Lia Lembana berhasil mendapatkan Billfish diatas kayak bersama Bayu Noer ketika mancing di Malaysia beberapa pekan lalu

Itu juga pertama kalinya aku ikut turnamen mancing, jadi mungkin berbeda aja gitu. Ditambah turnamen tersebut merupakan perlombaan mancing Billfish dengan peserta terbanyak. Beberapa waktu kemudian tahun 2015 setelah itu aku datang lagi ke sana. Aku mancing naik kayak dan sukses mendapatkan seekor Billfish. Fight dengan ikannya sekitar 15 menit menggunakan tackle untuk popping dengan berat ikan 10 kg lebih. Selain itu aku juga pernah menaikkan seekor Sailfish di tempat yang sama (Kuala Rompin) kalau castingan biasa blusukan ke rawa- rawa atau menyusuri sungai- sungai. Aku lebih sering mendatangi beberapa spot di luar kota seperti Pekanbaru, Aceh hingga Nias karena di Medan sudah sulit untuk menemukan spot untuk castingan. Kalau sedang excited mendapatkan ikan aku lupa bagaimana rasanya ketika berhasil strike. Yang pasti senang dan seru membuat ingin mencobanya kembali. Rekor ikan terbesar di spot-spot reshwater yaitu Toman dengan berat 8 kg yang aku dapatkan di Pekanbaru, Riau.

Perbedaan apa yang anda rasakan ketika mancing di luar negeri?
Kalau di luar negeri mereka punya peraturan yang lebih ketat, misalnya kalau kita mau bawa pulang ikan, pihak terkait hanya mengizinkan untuk size tertentu saja dengan jumlahnya pun secukupnya. Setiap pemancing juga diwajibkan menggunakan peralatan keselamatan (seperti live vest). Selanjutnya tidak boleh membuang sampah ke luar kapal. Mereka semuanya benar-benar menjaga serta menerapkan disiplin tinggi, gak boleh ini itu yang macam-macam. Hal-hal tersebut harus banyak kita pelajari dari mereka dan diterapkan juga di Indonesia. Kan sayang, Indonesia yang kaya dengan keindahan alamnya ini malah semakin rusak ya.

Sebenarnya apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mendukung para pemancing di Indonesia agar geliat dunia pemancingan semakin marak?
Untuk pemerintah mungkin bisa mendukung kegiatan di dunia pemancingan Indonesia dengan melakukan pelatihan SDM lokal yang membawa tamu (para pemancing). Menyiapkan kapal mancing untuk digunakan, lengkap dengan kebutuhan mancing seperti sounder, GPS, lifevest, agar tercipta keamanan serta kenyamanan pada saat memancing. Dengan adanya dukungan pemerintah seperti ini, pasti bisa menambah mata pencaharian warga lokal ya, karena banyak juga warga asing yang akan datang ke Indonesia untuk mancing.

Adakah perubahan dalam diri anda yang dipengaruhi oleh hobi mancing ini?
Ada sih, kalau mancing kita juga belajar sabar juga jadi tak pantang menyerah dalam menghadapi banyak hal dalam hidup. Pun jadi tahan banting gara-gara keseringan kena panas matahari. Ha.. ha..ha. Kalau komentar dari orang-orang mengenai hobi saya ini biasanya lebih kepada bentuk support sih. Karena untuk Lady angler di Indonesia masih terbilang belum banyak.

keseharian-lia-bersama-hewan-kebersamaanya
keseharian Lia bersama hewan kebersamaanya

Apakah anda memiliki hobi lain selain mancing?
Selain mancing, saya juga senang memelihara anjing. Sudah dua tahun ini saya memelihara dua ekor anjing Poodle masing-masing berukuran dua tahun dan satunya lagi berusia 3 bulan. Jika ada pilihan antara mancing atau memelihara anjing, maka saya akan memilih keduanya dengan mengajak anjing-anjing tersebut saat mancing. He.. He.. He..

Adakah target ikan yang ingin sekali anda dapatkan akhir-akhir ini?
Blackbass. karena belakangan ini ikan Blackbass sudah langka dan sulit untuk ditemukan. Jika pun ada, harus mencari lokasi di spot-spot yang belum terjamah oleh banyak orang. Ikan Blackbass sudah ibarat jackpot bagi pemancing yang menyukai teknik casting karena dianggap sangat prestisius. Tidak mudah menemukan spot Blackbass di Medan dan untuk menemukannya saya pun harus rela datang jauh-jauh ke Pulau Tello, Nias. – RPS