Lenny Ratna Dhilla: Srikandi Bumi Mulawarman

Kalimantan tidak hanya mahsyur akan hutannya nan lebat, dimana berbagai potensi perikanan air tawarnya selalu menggugah hasrat para pemancing untuk menerabas belantara liarnya. Namun diantara lebatnya hutan liar, bahari Borneo juga kerap hadirkan potensi strike tiada dua. Sisi Timur salah satunya, sebuah perairan Selat Makassar yang memisahkan daratan Kalimantan dan Sulawesi. Pertemuan arus dari Laut Jawa dan batas utara nusantara membawa anugerah tersendiri.

Menghabiskan masa kecil di Bumi Mulawarman benar-benar dimanfaatkan Lenny untuk terus aktif menggeluti hobi mancing. Bahkan kini, salah satu lady angler di Mancing Mania Grup Kaltim (MMGK) tersebut memiliki beberapa unit rumpon serta kapal yang ia sewakan untuk pemancing di Samarinda dan sekitarnya. Tentu langkah tersebut diambilnya guna memfasilitasi para pemancing, serta dirinya dalam memenuhi kebutuhan memancing. Simak wawancara kami dengan Lenny berikut ini:

Nama : Lenny Ratna Dhilla
Profesi : Ibu Rumah Tangga
Asal: Samarinda

Siapa orang yang pertama kali mengenalkan Anda dengan hobi mancing?
Almarhum ayah jadi salah satu orang yang berpengaruh, dimana beliau merupakan orang pertama yang mengenalkan saya dengan kegiatan mancing. Dahulu beliau mengajak mancing ikan Pepuyu dan Haruan di sungai-sungai di daerah Separe, Kalimantan Timur. Kesan pertama kali mancing saat itu sensasi strike-nya yang luar biasa. Saya tidak terlalu tertarik melakukan hobi lain seperti kebanyakan perempuan, karena saya ingin lain dari pada yang lain.

Banyak komentar datang dari teman dan sanak saudara, “Perempuan kok hobi mancing? Nanti kalau kulitnya hitam bagaimana?”. Saya tidak peduli. Walaupun mancing banyak digeluti para pria, namun jika saya sebagai perempuan mampu melakukannya, kenapa tidak? toh sah-sah saja. Saya kalau mancing tidak terlalu pilih-pilih tempat. Dimanapun, cukup pergi mancing saja itu sudah membuat saya senang. Saat ini saya lebih gemar mancing di muara dan rumpon. Bergabungnya saya ke Mancing Mania Group Kaltim (MMGK) jadi awal mula keaktifan saya di dunia mancing hingga saat ini untuk meneruskan hobi sang ayah.

Teknik mancing apa yang kerap Anda aplikasikan ketika mancing?
Saat mancing, teknik ngoncer dan trolling menjadi teknik yang kerap saya gunakan. Sebab teknik tersebut lebih sederhana dibanding dengan teknik sport fishing seperti popping dan jigging yang sudah jelas membutuhkan tenaga ekstra untuk mengaplikasikannya.

Mengingat faktor usia jadi alasan bagi saya untuk tidak mendalami teknik ekstra tersebut. Mancing di laut bagi saya akan lebih jauh menyenangkan dibanding di freshwater, sebab potensi ikan di laut jauh lebih variatif spesies dan ukurannya. Dengan begitu, sejak 2016, saya pun memutuskan untuk membuat rumpon yang saya gunakan untuk kebutuhan mancing. Total ada sekitar 10-12 unit rumpon sekitar perairan Muara Saliki.

Menurut pandangan Anda, bagaimana geliat mancing di sana (Muara Saliki)?
Kondisi perairan di sana serta spot-nya pun masih cukup bagus kalau buat saya pribadi. Ekosistem terumbu karang sebagai habitat ikan-ikan di sana masih terjaga. Dari darat, spot mancingnya berjarak sekitar 1-2 jam menggunakan kapal kayu bermesin. Antusias pemancing yang mulai tinggi membuat beberapa kapten atau pemilik kapal di Samarinda menyewakan kapal mereka untuk mengantar pemancing ke spot.

Berkat kecintaannya terhadap mancing, Lenny menyediakan kapal mancing untuk disewakan oleh para pemancingan di Kalimantan Timur.

Kebetulan saya juga menyediakan penyewaan kapal mancing sebanyak 2 unit kapal kayu bermesin. Sementara 1 unit lagi yaitu kapal cepat (speed boat) tidak disewakan, melainkan saya gunakan untuk kebutuhan pribadi.

Adakah pengalaman ketika mancing yang tidak bisa Anda lupakan?
Kejadian sudah cukup lama ketika masih baru menggeluti hobi mancing ke laut lepas menuju spot pengeboran (RIG). Mulanya, ketika berangkat semua terlihat akan baik-baik saja. Hingga tiba di spot, cuaca masih teduh.

Namun keadaan memburuk selepas sore usai angin berkecamuk secara tiba-tiba membawa gelombang besar. Saya ingat waktu itu gelombang setinggi 3 meter menghantam kapal kami. Kapten kapal berinisiatif untuk memutar haluan kembali menuju daratan setelah kapal sempat terombang-ambing. Terus terang sampai saat ini saya masih trauma dengan kejadian tersebut. Sampai- sampai pernah tidak mendapat izin dari suami. Kapok sih tidak, hanya sekarang sulit mendapat izin tidak seperti sebelumnya. Hehe.

Ada juga cerita waktu strike yang menegangkan. Singkat cerita, ketika mancing di tengah laut, umpan pancing saya disambar ikan dan tarik menarik pun tidak terhindarkan. Seluruh tenaga saya keluarkan mengingat perlawanan lumayan berat. Mendekati permukaan terlihat seekor Kerapu namun kail tidak tepat menembus bagian mulut ikan itu, hampir mocel. Dengan hati-hati saya coba menariknya menuju kapal, hingga pada akhirnya ganco pun menembus tubuh ikan dan kerapu berbobot 7 kg pun sukses landed. Sungguh membuat saya tercengang.

Lenny Ratna Dhilla berfoto bersama rekan- rekannya dari komunitas Mancing Mania Grup Kaltim (MMGK)

Anda juga dikabarkan memiliki beberapa kapal mancing di Muara Badak, apa alasan anda membuat kapal mancing?
Tujuannya tidak lain untuk memfasilitasi para pemancing di wilayah Kaltim. Dimana geliat mancing, khususnya di Muara Badak kian semakin tinggi perkembangannya. Sudah hampir 2 tahun kapal mancing disewakan kepada para pemancing. Tiap akhir pekan adalah waktu sibuk bagi kapten kapal beserta kru kapal kami dalam melayani pemancing dari berbagai wilayah di Kaltim. Seluruh standar pengoperasional saya serahkan kepada kapten masing- masing kapal. Saya selalu berpesan mengenai masalah keselamatan pada saat mancing yang harus diutamakan. spot rumpon jadi lokasi idaman para pemancing. Dermaga tempat kapal saya bersandar juga kerap digunakan untuk ajang berkumpul rekan-rekan pemancing dari MMGK.

Adakah keinginan strike ikan yang belum kesampaian dan ingin sekali Anda dapatkan?
Giant trevally (GT). Mengapa GT? Karena seperti yang diketahui, ikan spesies ini memiliki ciri khas tarikan yang kuat ketika memberikan perlawanan. Sehingga jadi salah satu ikan idaman para pemancing. Untuk bisa mendapatkan ikan ini di Kalimantan, kita harus bergerak menuju spot di perarian sekitar pengeboran lepas pantai (RIG). spot di RIG memang berbahaya, alun ombaknya lumayan kencang, belum lagi kemungkinan buruk ketika cuaca sedang buruk. Itu sebabnya sulit bagi saya untuk mendapatkan izin dari suami pergi ke spot tersebut guna memancing GT. Sementara itu, daratan Kalimantan yang masih liar memang menghadirkan potensi perairan terbaik. walau begitu belum ada momentum bagi saya untuk mencoba wild fishing.

Apakah Anda memiliki peralatan pancing andalan yang kerap Anda bawa?
Joran Majorcraft Alexander jadi peranti andalan yang kerap saya bawa ketika mancing. Itu adalah joran pertama yang pernah saya punya. Hal istimewa dari joran tersebut yaitu, entah kebetulan atau memang membawa hoki, saya selalu sukses mendapatkan ikan ketika menggunakan joran tersebut. Bisa dibilang joran tersebut merupakan lambang hoki saya ketika mancing. Jika sampai tertinggal atau tak membawanya, bisa sedih saya. Calon gagal amis. Hehe. sudah 3 tahun lebih joran tersebut menemani kegiatan mancing saya dan kondisinya pun masih bagus. Hanya pernah diwarnai ulang akibat lunturnya cat akibat bergesekan dengan badan kapal ketika mancing. –RPS