Jessica Webb: Spesialis Kolam

Belum banyak lady angler memiliki pengetahuan mendalam terhadap dunia pemancingan. Lain halnya dengan Jessica, berangkat dari kegemarannya sedari kecil mengikuti serangkaian kegiatan mancing bersama sang ayah. Berbagai informasi diserap lewat pengalaman kemudian dipelajari di rumah untuk dimatangkan, terutama dalam hal meracik umpan. Berbagai prestasi menjadi bukti bahwa lady angler ini seorang profesional.

Kecintaannya terhadap hobi ini bahkan membuatnya harus rela menentukan pilihan untuk menghentikan karirnya sebagai pekerja kantor di salah satu perusahaan gas ternama. Simak perbincangan SM dengan Jessica berikut ini:

PROFIL
Nama: Jessica Webb
Profesi: Ibu rumah tangga
Asal: Jakarta

Apa hal pertama kali yang membuat anda menggeluti kegiatan mancing?
Pertama kali mancing ketika saya diajak oleh Papah saat masih duduk di bangku SMP di Magelang, Jawa tengah. Pemancingan Mujair serta Gurame menjadi lokasi yang kerap didatangi karena waktu itu belum banyak terdapat kolam galatama ikan Mas atau lele. Pada akhirnya ketika SMA saya datang ke Jakarta dan menjadi awal mula dikenalkannya mancing di kolam galatama masih oleh Papah.

Berbagai pengetahuan beliau diberikan mulai dari meracik umpan hingga cara strike. Dia adalah idola saya. Kenapa saya mengidolakannya? Karena beliau memiliki pribadi santun dan pendiam. Hal itu diterapkannya pula ketika mancing di kolam manapun sehingga pemancing lain menghormatinya.

Bagaimana melihat diri anda selaku lady angler di tengah para pemancing yang umumnya pria?
Basic keluarga yang berasal dari Jawa memang selalu menerapkan aturan ketat, terutama soal kesantunan. Dimana bumi dipijak disitu bumi dijunjung. Prinsip itu yang selalu diterapkan oleh keluarga kepada saya khususnya. Ketika berbaur di lapangan, usahakan untuk berbaur, saling sapa dan sharing informasi-informasi seputar memancing. Jujur saya menghindari sikap menonjolkan diri di depan banyak orang karena memang bukan tipe saya untuk cari perhatian. Papah menjadi orang pertama yang mengajak saya berbaur dari satu kolam ke tempat lainnya dan bertemu para pemancing, jadi ya, semuanya sudah mengenal saya.

Bicara di kolam, beberapa kali saya juga kerap keluar sebagai juara terutama meraih total ikan terbanyak pada saat mengikuti lomba mancing. Mungkin hal itu menjadi faktor pembeda, suatu prestasi yang menjadi bahan perhitungan oleh pemancing lain. Ini juga menjadi bukti bahwa saya memang bisa menyaingi para pria, bisa menjawab keraguan orang lain dengan prestasi sehingga tidak ada yang memandang sebelah mata.

Suksesnya mancing di kolam tidak lepas dari khasiat umpan yang digunakan. Bagaimana anda mahir meracik umpan?
Kemampuan meracik umpan saya dapatkan secara otodidak. Diskusi dengan pemancing lain menjadi kunci utama untuk selanjutnya diaplikasikan di rumah. Aroma umpan dari pemancing lain bisa recomended. Kemudian saya simpulkan, misalkan kalau umpan untuk target lele cenderung lebih amis, berbeda dengan ikan Mas dimana aroma wangi menjadi daya pikat utama terhadap ikan. Butuh waktu yang tidak sebentar buat saya untuk bisa menguasai kemampuan meracik umpan yaitu sekitar 8-10 tahun. Sebab beda cuaca beda umpan, panas – hujan, malam – siang itu karakternya berbeda. Informasi yang saya dapat di kolam langsung dipraktikan di rumah. Karena menurut saya pada dasarnya meracik umpan itu sama dengan orang memasak. Takaran bumbunya sebelum dimasak harus pas sesuai kebutuhan. Intinya harus terus mencoba.

Adakah orang yang minta untuk diajarkan meracik umpan?
Kebetulan rekan-rekan dari komunitas mancing Mata Kail kerap datang ke rumah untuk sama-sama membuat umpan, khususnya umpan ikan lele. Kami saling belajar meracik umpan satu sama lain lalu kemudian berangkat mancing bersama. Namun akhir-akhir ini karena mereka melihat saya lebih cenderung sedang gemar casting dan melaut lagi, maka mereka sedikit mengurangi intensitas membuat umpan dan mancing di kolam bersama- sama lagi. Mereka rekan- rekan di kolam menghormati keputusan saya untuk mendalami kegiatan mancing lain selain di kolam.

Lebih suka mancing di kolam, casting (wildfishing freshwater) atau laut?
Ketiganya bagi saya bukanlah pilihan. Saya merupakan tipe orang yang tidak pernah merasa puas terhadap pengetahuan, apalagi pengetahuan tentang mancing. Pada mulanya saya memang berangkat dari hobi mancing di kolam pemancingan, ikan Mas, Gurame, Mujair dan lele.

Namun belakangan ini juga sedang mencoba mendalami casting ikan-ikan freshwater. Rupanya casting memiliki sensasi berbeda dengan metode mancing lainnya. Tentu ini lebih sulit dari di kolam. Kita mendatangi lokasi (spot) yang kita tidak mengetahui keberadaan ikan.

PAda beberapa perlombaan mancing Jessica kerap kali menraih juara, baik itu hanya meraih juraa baik juara ikan terberat hingga ikan total.

Penguasaan terhadap kondisi spot seperti target, tipikal ikan, habitatnya serta kondisi air mempengaruhi penggunaan umpan (lure). Begitu pun di laut, beberapa kali saya juga pernah mancing menggunakan kapal dengan alunan ombak. Terakhir (mancing di laut) pada turnamen di Belitung 2016 lalu. Secara pribadi saya gemar travelling. Jadi baik casting maupun laut memiliki tantangan tersendiri, kalau kolam, kan bisa kapan dan dimanapun kita temui. Hehe.

Bagaimana membagi waktu yang anda punya?
Sudah sejak 10 tahun lalu saya memutuskan untuk berhenti terhadap kesibukan pekerjaan (karir). Sebab menurut saya ada 3 pilihan saat itu, karir, keluarga atau mancing. Saya kemudian memutuskan untuk mengakhiri karir karena tidak mungkin saya meninggalkan keluarga apalagi mancing, hehe. dari mancing saya bisa mendapakan segalanya seperti travelling dan banyak teman. Untuk melengkapi kebutuhan finansial sejauh ini masih ada peran suami, jadi rasanya saya jadi lebih banyak memiliki waktu untuk menekuni kegiatan mancing. Jika dituruti bisa setiap hari saya mancing, dari pagi sampai malam berpindahpindah kolam. Namun keluarga tetaplah jadi yang nomor satu.

Adakah pengalaman yang tidak bisa dilupakan selama melakukan kegiatan mancing?
Pengalaman waktu ikut cast and camp with Maguro and Friends di tirta Gangga, lampung beberapa waktu lalu adalah pengalaman unik selama saya menggeluti kegiatan mancing. Di sana saya bisa merasakan bagaimana mancing (casting) dan kemudian bermalam ditenda.

Jessica (berdiri tengah) ketika berfoto bersama pemancing lain usai kegiatan cast and camp with Maguro di Lampung

Selain itu minimnya fasilitas toilet menjadikan tantangan tersendiri. Sebab dalam hal kebersihan (toilet), perempuan butuh spesial servis dan fasilitas memadai. Saya rela untuk berpenampilan seadanya dan mandi di SPBU. Namun keseruan itu mengesampingkan kekurangan yang ada, yang bisa menjadi cerita untuk anak dan cucu dikemudian hari.

Bagaimana komentar anda mengenai Ladies Angler?
Didirikannya Ladies Angler Community (LA.Com) merupakan kabar menggembirakan karena mampu menjadi wadah komunikasi para pemancing perempuan. waktu yang selalu berbenturan dengan jadwal pribadi membuat saya jarang bisa berkumpul dengan teman-teman LA.Com

Saya pribadi berharap semoga seluruh anggota LA.Com bisa menguasai berbagai metode mancing secara tulus dari dalam diri mereka masing-masing. Tidak hanya sekedar meramaikan dunia pemancingan di indonesia agar tidak dipandang sebelah mata dan menaikkan martabat perempuan. Harus banyak lagi diskusi mengenai masalah teknis mancing yang dilakukan pada saat bertemu satu sama lain, tidak hanya sekedar berkumpul saja.

Jessuca bersama ikan tangkapannya.

Apa cita-cita anda ke depannya atas hobi anda ini?
Ingin memiliki bisnis yang berhubungan dengan mancing, seperti memiliki kapal mancing. Namun sejauh ini belum ada upaya berarti karena terkenda finansial untuk kebutuhan keluarga. Sebab keluarga adalah nomor satu. Belum tahu mau ada kapal dimana, belum ada pandangan, ini baru cita-cita saja.

Selain itu, memiliki kolam mancing juga sudah masuk keinginan agar bisa mancing sepuasnya kapan pun saya mau. Hehe. ya, untuk dunia pemancingan di Indonesia ini secara umum saya berharap agar pihak terkait bisa menjadikan kegiatan mancing ini sebuah cabang olahraga agar memiliki regulasi jelas. –RPS