KMMS: Mengangkat Potensi Mancing Bumi Sriwijaya

Bumi sriwijaya seolah tiada henti jika bicara mengenai spot freshwater. Kontur darat penuh belukar di pedalamannya, teraliri limpahan air di tiap tepian sungainya. Lokasi terbaik yang sudah tentu menjadi habitat predator air tawar dari keluarga ‘kepala ular’.

Tanggung jawab sosial sebagai gawang keseimbangan lingkungan jadi hal mendasar bagi para pemancing atas isu kelestarian alam. Ada banyak cara yang dilakukan oleh sebuah komunitas mancing untuk ikut menjaga serta mempromosikan wilayah mereka. Cara sederhananya yaitu melakukan berbagai eksplorasi, mencari bukti potensi, untuk kemudian mengangkat namanya kepada khalayak luas.

Bagaimana Komunitas Mancing Mania melakukan berbagai upaya dalam mempromosikan daerah mereka? Simak wawancara kami dengan ketua KMMS, Bambang Irawan berikut ini:

Bagaimana awal tercetusnya komunitas ini?
Awalnya grup mancing KMMS terbentuk oleh beberapa orang yang sama-sama memiliki hobi mancing. Selanjutnya dari memanfaatkan peran media sosial (facebook) dibuatlah grup yang diberi nama Komunitas Mancing Mania Sumatera Selatan pada tanggal 22 Desember 2012 yang kemudian dijadikan sebagai hari lahirnya KMMS. Seiring kian banyaknya member KMMS yang bergabung dalam grup FB serta semakin rutinnya pertemuan dan kopdar yang diadakan, maka timbul ide untuk membentuk semacam struktur kepengurusan yang terdiri dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara dan humas.

Adakah syarat khusus untuk bisa tergabung menjadi anggota KMMS?
Akhir Desember 2016, KMMS resmi mengembangkan diri dengan membuat payung hukum organisasi, yang artinya KMMS bukan lagi sebagai sekedar komunitas hobi saja tetapi telah menjelma menjadi komunitas yang sah, terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM, mempunyai pengurus, anggota, AD/ART, sekretariat, rekening dan wajib pajak. Tidak ada persyaratan khusus untuk bergabung di KMMS, selayaknya organisasi tentunya siapapun yang bergabung harus tunduk pada AD/ ART yang berlaku. Semenjak dibukanya pendaftaran keanggotaan KMMS sebagai komunitas resmi berbadan hukum 7 April 2017 lalu telah terdata sekitar 170 orang anggota yang mayoritas tinggal di kota Palembang dan beberapa kabupaten di sekitarnya. Ada juga beberapa orang dari luar Sumatera Selatan. Sementara untuk member grup di Facebook sendiri telah tembus lebih dari 5 ribu member.

Sudah berusia lebih dari 4 tahun, bagaimana KMMS menjaga kekompakan antar anggota, sehingga tetap dalam satu tujuan bersama?
Intensitas komunikasi adalah hal penting yang diperlukan oleh sebuah komunitas mancing untuk tetap mempertahankan kekompakan satu sama lain. Kami kerap melakukan kumpul bersama di sekretariat, yang kami jadikan markas (homebase) di Palembang, membahas berbagai macam informasi seputar dunia pemancingan di Indonesia.

Trip mancing bersama rekan-rekan KMMS juga wajib diadakan serutin mungkin demi menjaga kekompakan dalam hal melakukan kegiatan mancing terutama di sebuah spot. Sementara untuk hubungan di luar komunitas, kita tetap berkomunikasi dan berinteraksi dengan komunitas-komunitas mancing lainnya di seluruh wilayah. Caranya yaitu dengan melakukan trip mancing bersama hingga turut serta dalam setiap event mancing yang dilakukan. Sesuai moto dari KMMS ‘Bersaudara dan Bersilaturahmi dalan Satu Hobi’.

Bisa dijelaskan bagaimana potensi perairan di Sumatera Selatan pada umumnya?
Sangat potensial, banyak yang belum terjamah. Khususnya freshwater. Tak jarang wilayah Sumatera Selatan kerap diliput oleh stasiun-stasiun televisi nasional yang menanyangkan program kegiatan mancing. Potensi tersebut dikarenakan mayoritas wilayah di Sumatera Selatan masih banyak terdapat rawa-rawa yang masih liar ditambah dengan aliran sungainya yang hampir di setiap kabupaten di wilayah Sumsel punya spot potensial. Seperti kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Musi Rawas, Banyuasin dll. Hanya saja faktor jarak serta akses menuju beberapa spot di sana cenderung sulit untuk didatangi. Peran serta pemerintah daerah setempat dalam membenahi akses tersebut perlu diperhatikan.

Bagaimana rekan-rekan KMMS memanfaatkan potensi freshwater yang sudah ada tersebut?
Caranya adalah dengan mendatangi tempat tersebut untuk melakukan eksplorasi, dan daerah yang kerap didatangi saat ini adalah wilayah perbatasan antara Sumsel dan Jambi. Kabar dari berbagai sumber yang kami dapatkan atas potensi spot tersebut jadi langkah awal kami untuk mendatanginya sejak setahun lalu. Spesies dominan yang ditemui adalah snakehead seperti Tomam dan Kerandang.

Di Sumsel, terdapat ratusan lokasi berpotensi di pinggiran sungai yang dikelola oleh pemda setempat dan dijadikan sebagai pendapatan daerah dengan cara dilelang ke masyarakat, salah satunya di kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Pali). Tahun ini, KMMS berkesempatan mengambil alih kepemilikan salah satu danau di kabupaten Pali tersebut untuk dijadikan lokasi mancing khusus angota KMMS. Setiap anggota, tetap dikenalan biaya masuk namun dengan biaya ringan dan uangnya dimasukkan ke dalam kas untuk dijadikan saldo pengambilan lahan di tahun berikutnya. Luas danaunya kira kira 500 x 200 m persegi. KMMS bukan hanya sekedar kumpulan pemancing, namun menjadi organisasi pemancing sah di SumSel yang terus berusaha untuk mempromosikan Sumsel sebagai tujuan wisata mancing dengan potensi-potensi yang ada. Intinya kami ingin mengembangkan geliat mancing di Sumsel, terutama freshwater.

Spot freshwater sudah dijelaskan, lalu bagaimana potensi spot saltwater di Sumsel?
Wilayah perairan di sebelah timur SumSel menjadi lokasi mancing yang kerap didatangi oleh KMMS terutama mancing di bagan-bagan teri milik masyarakat sekitar. Beberapa spot di sana masih memiliki potensi terhadap ikan-ikan karang, sebut saja perairan di pesisir Banyuasin yang berbatasan langsung dengan Pulau Bangka. Aktifitas mancing di laut masih kerap dilakukan walau tidak serutin mancing di freshwater setiap minggunya. Paling kalau mancing saltwater ke Sea Mount Reef (Lampung), spot terdekat dari Palembang yang dilakukan 3-4 kali setiap tahunnya.

Bagaimana komentar anda mewakili KMMS terhadap kebijakan lelang spot itu?
Lelang spot yang dilakukan tersebut direncanakan akan dilakukan dalam jangka panjang. Sehingga dengan adanya pengambil-alihan tersebut diharapkan terciptanya kesadaran cara menangkap ikan yang sesuai dengan aturan. Tidak ada lagi racun dan setrum, termasuk di spot Pali.

Lelang spot itu dengan perjanjian, pihak yang menguasai spot berhak mengelolanya untuk tujuan komersil. Mengambil ikan maupun dijadikan sarana untuk pemancing melakukan kegiatan mancing, tentunya ada biaya masuk spot namun tidak memberatkan (murah). –RPS

Berikut foto- foto Komunitas Mancing Mania Sumatera Selatan: