AFC: Bersama, Menjadi Pioneer Keselamatan Memancing

Nusantara yang luas menjadi keberkahan warna-warni dunia pemancingan indonesia. lahirnya komunitas-komunitas mancing di berbagai daerah menjadi entitas penggerak gairah memancing di wilayahnya masing-masing. Archipelago Fishing Community atau disingkat AFC, lahir meramaikan dinamika yang ada. Selain mengusung pesan perdamaian bagi para pemancing, AFC juga mengkampanyekan kepedulian terhadap masyarakat berupa sumbangsih pikiran maupun aksi nyata.

Diusianya yang melewati tahun ketiga ini, masih banyak cita-cita yang ingin diwujudkan oleh AFC bersama para anggotanya. Salah satunya ialah menjadi komunitas pionir keselamatan memancing di indonesia. Bagaimana AFC bisa terus eksis hingga menjadi salah satu komunitas yang diperhitungkan namanya?

Mari simak wawancara kami dengan Rudi, ketua AFC di kawasan Puncak , Bogor, beberapa waktu lalu:

Apa filosofi dari penggunaan ‘Archipelago’ pada nama AFC?
Konsep dasarnya para anggota AFC merupakan gabungan dari berbagai komunitas yang sudah ada. Kebanyakan dari mereka mungkin merasa aspirasinya kurang diterima oleh komunitas lamanya itu, sehingga dibentuklah wadah ini. Tujuan tersebut menjadi cikal bakal penggunaan nama Archipelago yang dalam bahasa indonesia berarti ‘kepulauan’ atau ‘nusantara’ mengingat indonesia adalah negara kepulauan dan harapannya AFC mampu menyatukan aspirasi para pemancing dari berbagai daerah di Nusantara.

Apa misi AFC untuk masyarakat luas?
Pada intinya kami sebagai komunitas mancing ingin memajukan dunia pemancingan di Indonesia. Salah satu contohnya yaitu ingin menjadikan nelayan tangkap menjadi nelayan pancing. Nelayan tangkap biasanya berlayar mencari ikan menggunakan uang pribadi untuk melengkapi persiapannya, terutama solar. Jika menjadi nelayan pancing yang  menyewakan kapalnya untuk para pemancing, maka dalam hal ini kapten atau pemilik kapal tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra, karena mereka sudah menerima uang sewa dari para pemancing tersebut. Pada saat menteri olahraga dijabat Roy Suryo, kami pernah mengajukan hal tersebut dan disambut baik oleh beliau. Hingga saat ini upaya tersebut masih dilakukan oleh AFC.

Apa keuntungan bagi anggota baru bila bergabung dengan AFC?
AFC terbuka untuk umum, artinya siapa saja boleh bergabung dan tidak dikenakan syarat khusus asalkan memiliki kemauan untuk memancing. Kita di AFC mencoba merangkul dan mendukung penuh anggota yang ingin memancing tapi tidak memiliki piranti yang lengkap. Misalkan jika ada yang ingin trip mancing dan membutuhkan joran untuk tehnik jigging atau tehnik lainnya bisa datang ke sekretariat di Tebet untuk dipinjamkan piranti tersebut. Atau juga bisa menghubungi anggota lainnya yang memiliki peralatan mancing lengkap.

Foto- foto kegiatan komunitas Archipelago Fishing Community (AFC)

Dengan berkembangnya berbagai komunitas, bagaimana AFC memposisikan diri?
Saat ini AFC rutin mengadakan trip mancing yang sifatnya kolosal. Jika umumnya pemancing trip ke Sea mount Reef menggunakan satu kapal, AFC biasa menggunakan 3-4 kapal karena terbukti banyak yang ikut serta baik peserta dari dalam maupun non anggota AFC. Trip besar seperti itu biasa dilakukan minimal satu tahun sekali dan diumumkan 6 bulan sebelumnya. Jadi tiap peserta bisa mencicil pembayaran agar tidak memberatkan mereka. Belum lagi trip lainnya dalam skala kecil juga dilakukan para anggota AFC agar eksistensi komunitas ini secara umum tetap ada dan selalu aktif.

Bagaimana peran AFC dalam menjaga kelestarian alam?
Belum banyak kegiatan dalam skala besar yang dilakukan oleh AFC mengenai usaha pelestarian alam. Namun hal kecilnya AFC sudah bergabung bahkan beberapa anggota dari kita sudah mendapatkan pelatihan dari yayasan terumbu karang Indonesia mengenai pengetahuan kelestarian laut dan terumbu karang. Dari kegiatan itu kita jadi mengetahui spesies laut apa saja yang dilindungi, sehingga kita bisa mendapatkan pelajaran mengenai catch and release. Saat ini kita salah kaprah bila merilis ikan besar. Ikan yang bobotnya besar justru akan menjadi predator bagi ikan-ikan kecil. Dari situ kita di AFC terus menerapkan kebiasaan catch dan release secara benar.

Selama trip mancing, upaya apa yang  dilakukan agar para anggota merasa nyaman?
Dalam hal ini ketua acara bertanggung jawab penuh terhadap teknis pada saat melakukan trip mancing. Saat AFC menjalani trip besar, saya yang pernah menjadi event organizer, selalu melakukan briefing peraturan dan pentingnya keselamatan sebelum peserta menaiki kapal dan menutup dengan doa. Ada dua orang yang memegang kewenangan dalam mengambil kebijakan di atas kapal, kapten dan ketua acara. Bila kapal lebih dari satu maka komunikasi tetap terhubung menggunakan radio. Keputusan ketua acara tidak bisa diganggu gugat dalam mengambil sebuah kebijakan. Misalkan saat cuaca tiba-tiba buruk, maka ketua berhak untuk menutup trip dan mengajak kapten untuk kembali ke darat lebih cepat sesuai kesepakatan bersama guna menghindari hal buruk yang terjadi.

Langkah apa yang akan dilakukan AFC dalam upaya kampanye keselamatan memancing?
Semenjak kejadian kecelakaan kapal Hujan labek, AFC yang sebagian anggotanya juga menjadi relawan pencarian korban mendapatkan banyak pelajaran penting mengenai keselamatan saat memancing. AFC ingin mengumpulkan komunitas-komunitas mancing di Indonesia yang dimulai dari Jakarta untuk membuat satu prosedur keamanan yang jelas. Salah satunya mewajibkan sebuah komunitas memiliki alat keselamatan seperti live jacket minimal 5-10% dari jumlah anggota yang ada. Jadi saat ada anggota yang ingin menjalani trip, dipinjamkan live jacket ke koordinator masing-masing. Bahkan jika sanggup disarankan sebuah komunitas membeli juga GPS dan satelit phone. Selain itu, sebuah komunitas juga disarankan mengajukan salah satu perwakilannya untuk mengikuti training survival yang biasa diadakan 3 bulan sekali oleh Badan Sar Nasional (BaSarNas), tidak dipungut biaya. Training ini penting untuk bertahan hidup jika dalam keadaan darurat dan mengalami hal-hal buruk lainnya. Tinggal bagaimana kita menghubungi pihak BaSarNas mengenai prosedur pelaksanaannya.

Secara umum, apa harapan dari AFC untuk dunia pemancingan di Indonesia?
Kita semua tentunya berharap dunia pemancingan di Indonesia menjadi jauh lebih baik. Ada banyak cara yang bisa dilakukan dari beberapa aspek, salah satunya menjaga ekosistem laut. Kita bisa mencontoh Malaysia dengan membuat lokasi mancing bernama Kuala Rumpin. Di tempat tersebut kita secara khusus bisa mancing dengan target ikan Marlin atau jenis Billfish lainnya. Atau juga mengadaptasi peraturan mancing di Jepang, dimana pemancing diwajibkan membawa umpan yang disediakan oleh otoritas setempat. Umpan tersebut harus dihabiskan dan tidak boleh dibawa ke darat lagi. Mau tidak mau umpan tersebut disebar ke lokasi mancing sehingga mempermudah ikan mendapatkan makanan. Saya rasa bila semua pihak mau bekerja sama maka bukan tidak mungkin cita-cita itu bisa tercapai. –RPS